AIR PADA SISTEM HIDROPONIK

Updated: May 19

Air adalah komponen utama dalam kehidupan, begitu pula di dalam sistem hidroponik, air menjadi media pembawa nutrisi yang selanjutnya akan diserap oleh akar dan didistribusikan ke seluruh bagian tanaman. Perlu diingat air (H2O) dapat dengan mudah mengikat ion lain (tercemar), untuk itu kita perlu memilih air yang tepat untuk sistem hidroponik kita, sebagai contoh kita perlu mengkonsumsi air yang higienis bukan sembarang air, karena air yang tercemar secara kimiawi ataupun biologis akan sangat berbahaya bagi tubuh, demikian hal nya untuk tanaman, tidak semua "kualitas air" dapat ditoleransi oleh tanaman di dalam bertani hidroponik.


Kali ini kita akan membahas mengenai jenis air yang direkomendasikan, dan jumlah air yang direkomendasikan dalam sistem hidroponik anda.


(Ini adalah salah satu contoh TDS meter berkualitas, sangat akurat. Alat ini digunakan oleh Earthponic di setiap aktifitas yang membutuhkan pengecekan kualitas air.)







Hidroponik adalah sistem pertanian yang menggunakan air sebagai media utamanya, jadi jenis air yang digunakan sangatlah penting dalam hidroponik. Banyak mineral ataupun non mineral yang dapat larut dalam air. Untuk mineral biasanya diketahui dengan melihat angka TDS (Total Dissolved Solids/Total Padatan Terlarut) atau EC (Electro Conductivity) pada air tersebut (TDS dan EC akan dibahas lebih dalam di sini).


Pada hidroponik, nutrisi yang adalah mineral juga akan dilarutkan ke dalam tampungan air (reservoir) yang pasti akan menambah jumlah TDS/EC pada air tersebut sampai kepada level yang ditargetkan. Dalam hal ini, jika TDS/EC awal pada sumber air sudah tinggi berarti kita hanya akan menambahkan nutrisi ke dalam reservoir dalam jumlah yang sedikit saja, dan ini kita hindari, karena mineral yang sudah ada di dalam air tersebut belum tentu semuanya dapat digunakan oleh tanaman secara langsung. Alasan kedua, sangat mungkin ada beberapa mineral yang sudah kelebihan di dalam reservoir tersebut, jadi akan dapat merubah keseimbangan nutrisi yang ada. Oleh karena itu, penggunaan air dengan kandungan mineral yang sedikit sangat disarankan.


Air RO (reverse osmosis), air hujan, atau air tampungan buangan AC memiliki kandungan mineral yang sedikit sehingga sangat disukai oleh banyak pelaku hidroponik. Jadi jika sumber air yang akan anda gunakan sudah tinggi, mungkin anda dapat mulai memikirkan berinvestasi pada filter RO, atau dapat menggunakan alternatif di atas seperti air hujan atau air tampungan buangan AC. Secara umum, kandungan mineral yang kami sarankan adalah maksimal sekitar 100 ppm atau 0.2 mS/cm2.


Sebagai gambaran umum, air hujan adalah air yang sudah di 'suling' secara alami sehingga menghasilkan air dengan TDS yang amat kecil (biasanya absolut '0 ppm') disisi lain air laut misalnya tidak dapat diukur dengan alat TDS sederhana karena tingkat ppm terukur adalah nilai maksimal yang dapat ditampilkan TDS meter, sebagai gambaran lain, orang yang tinggal di dekat pesisir pantai, dan menggunakan air tanah biasanya memiliki TDS diatas 500ppm yang mana tidak akan cocok untuk air dalam sistem hidroponik.


Tidak sedikit orang yang mengabaikan pentingnya kualitas air pada saat melakukan kegiatan hidroponik, yang berujung pada ketidak berhasilan pertumbuhan tanaman, disisi lain ada orang-orang yang berhasil bertani hidroponik di tempat lain dengan air tanahnya, tetapi ketika ia tinggal di lokasi berbeda yang memiliki kualitas air tanah yang buruk, tanamannya menjadi gagal sehingga ia mulai kehilangan semangatnya.


Jika anda ingin belajar lebih dalam tentang hidroponik, Earthponic | Hidroponik Bali akan senantiasa memperbarui konten kami, silahkan masukan email di kolom sebelah kanan untuk mendapatkan notifikasi pelajaran baru tentang hidroponik maupun akuaponik dari kami.

Jalan Sedap Malam gg. Gardenia no.15

Denpasar, Bali

  • Facebook
  • Instagram
Logo earthponic small.png

earthponic

education . creation

©Copyright Earthponic 2020 All Rights Reserved.